Sabtu, 08 Mei 2010

Lampu Duduk Penghias Rumah dari Tempurung Kelapa Ukir

TEMPURUNG seringkali langsung dibuang usai kelapa diambil untuk diperas santannya. Namun ditangan Eko Sapto, warga Kanoman , Kelurahan Pleret, Kecamatan Pleret, tempurung diolah hingga menjadi kerajinan yang bernilai jual. Meski masih menggunakan alat-alat manual, Eko mulai ramai mendapat pesanan.

Eko mengungkapkan, awalnya dia tertarik membuat kerajinan karena merasa sayang banyak tempurung yang terbuang tanpa dimanfaatkan. ”Saya lalu iseng-iseng mengukir nama dan ditambahi lampu hingga menyala,” ujarnya kepada KR, Rabu (17/3). Ketika sudah jadi, tempurung tersebut dipajang diatas meja ruang tamu.

Hidupnya mulai berubah ketika ada seorang teman yang memesan tempurung ukir tersebut. ”Dia tertarik dan mulai memesan,” ungkap Eko. Dari promosi mulut ke mulut tersebut, Eko mulai kebanjiran pesanan, meski baru dalam lingkup DIY.

Proses pembuatan tempurung ukir tersebut meski terlihat sederhana namun membutuhkan keterampilan khusus. Mulanya, tempurung kelapa dibersihkan serabutnya. Usai itu, dibuatkan pola berdasar keinginan pemesan. Menurut pola tersebut, Eko kemudian menggergaji sesuai bentuk yang diinginkan. Gergaji yang digunakan, adalah gergaji buatan sendiri yang berasal dari jeruji sepeda motor. ”Alasannya, jeruji lebih kuat dan tidak mudah patah,” jelas Eko. Selain itu, bisa fleksibel mengikuti bentuk tempurung yang bulat.

”Setelah diukir, kemudian dihaluskan dan diberi pewarna agar lebih mempercantik penampilan,” buka Eko. Untuk satu buah tempurung ukir, dalam pengerjaannya membutuhkan waktu antara 3 hingga 4 hari, tergantung kerumitannya. Hal ini dikarenakan Eko mengerjakan tempurung ukir paruh waktu. Dia adalah staf di Kantor Kelurahan Pleret.

Eko mengakui, untuk pengerjaan pesanan kaligrafi, tidak semua diterimanya. ”Takut ada kesalahan, nanti artinya berubah,” terangnya. Selain itu, dengan alat yang masih manual, membuat dirinya tidak mau berspekulasi dengan menerima banyak pesanan. Dalam setiap pengerjaan, dia dibantu oleh rekannya untuk bagian pewarnaan. Setelah jadi hiasan, tempurung ukir tersebut dijualnya dengan harga antara Rp 50 ribu hingga Rp 85 ribu. (Dian Ade Permana)

http://dianadepermana.blogspot.com



1 komentar: